Demi wujudkan tradisi akademis yang sensitif gender, PSGA LPPM sukses menggelar Workshop Metodologi Penelitian Berperspektif Gender bagi mahasiswa.

LPPM Official Media Center – (15-16/10/21) Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) sukses mengadakan acara Workshop bertajuk Metodologi Penelitian Berperspektif Gender bagi Mahasiswa di ruang teater Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) yang dibersamai oleh beberapa narasumber yang pakar dalam studi feminisme di Indonesia.

Acara yang akan berlangsung selama dua hari ini melibatkan mayoritas mahasiswa dan para anggota Gender Focal Point (GFP) IAIN Ponorogo sebagai tindak lanjut atas beberapa kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya: mulai dari workshop penulisan artikel Berperspektif Gender hingga rapat koordinasi GFP pada September lalu.

Acara pembukaan, di hari pertama, disampaikan oleh Wakil Rektor I, Dr. Aksin Wijaya, yang memberi pengantar tentang pentingnya aplikasi metodologi berperspektif gender dalam sebuah kegiatan penelitian. Akademisi dituntut mampu membedakan teori-teori feminisme yang berkembang dari model feminisme liberal, marxism hingga soft-feminism. Masing-masing bisa dijadikan pisau analisis dalam memahami persoalan isu gender bahwa ia adalah sebagai akibat konstruksi budaya.

Pembukaan WR 1 kemudian disambung oleh Kapus PSGA: Isnatin Ulfah, M.H.I, yang menyebut tentang aliran feminisme liberal yang umumnya mempunyai perspektif bahwa perempuan terus mengalami sub-ordinasi, atau selalu di tempatkan pada posisi yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri, meskipun tanpa sadar. Feminisme liberal meyakini satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah membebaskan perempuan agar mereka mampu mengakses hak-haknya, dari sektor sosial, ekonomi hingga politik. Sayangnya model liberasi ini masih berhenti pada sisi perempuan saja karena ternyata laki-lakinya tidak diberi paradigma bahwa seharusnya antara laki-laki dan perempuan harusnya bersifat equal, atau kesalingan.

Menurut Isnatin, Fenomena bias gender seringkali juga dipertajam oleh sistem nilai yang berkembang di masyarakat. Seni-budaya juga memberi dampak yang tidak sedikit misalnya tersirat dalam penggalan lagu yang populer “..kowe belonjo dasteran, aq moco koran sarungan.” Hal ini membuktikan bahwa sistem nilai yang masih subur di sebagian masyarakat kita adalah memposisikan perempuan sebagai kelas dua dalam relasi keluarga, juga mencerminkan budaya patriarki yang masih dominan. Bahkan, terjadi glorifikasi bahwa “…[sudah seharusnya kan perempuan seperti itu. Perempuan ya gak perlu sekolah tinggi-tinggi, paling-paling juga kembali ke dapur]…..Konstruksi seperti inilah yg keliru di masyarakat kita,” tandasnya.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Chafid Wahyudi dari UIN Surabaya dengan judul “Paradigma dalam kajian feminisme.” Pemateri, mengutip Pramoedya Ananta Toer, mengatakan bahwa penting bahwa sudah seharusnya manusia untuk adil sejak dalam pikiran. Dengan melihat realitas, untuk mewujudkan keadilan gender maka konstruksi gender yang sudah mapan tentunya harus dilihat kembali secara kritis dan integral dengan paradigma feminisme. Ia menambahkan perlunya memaknai realitas gender hari ini secara holistik. Paradigma kesetaraan akan lebih luas lagi jika dimaknai sebagai kesalingan, juga keharmonisan.

Materi kedua disampaikan oleh Akhol Firdaus, direktur IJIR UIN SATU, yang fokus membahas tentang “feminisme-research” yang terdiri dari ulasan soal paradigma dan metode. Hal ini sebagai kritik kepada produk dunia akademik yang hanya fokus pada riset-riset kesetaraan gender saja, tanpa tahu substansi terdalamnya. Ia juga tegas mempertanyakan kembali bahwa ilmu humaniora, termasuk gender, adalah disiplin ilmu yang selalu bermasalah, maka perlu nalar kritis untuk melihatnya.

Akhol, dengan mengutip Aan Oakley, seorang feminis-radikal yang sering kritis pada isu gender berbasis pada reproduksi, mengatakan bahwa ilmu sosial secara genetik mengalami cacat sejak lahir. Bahkan, narasi ilmu pengetahuan yang direfleksikan oleh ilmuan materialisme-historis seperti Engels dan Marx seolah meniadakan eksistensi perempuan; perempuan absen dalam refleksi-refleksi sejarah peradaban manusia. Baginya, bias gender dalam peradaban manusia adalah bentuk penindasan. “Tidak ada yang menghentikan penindasan, kecuali dengan perlawanan dari kelas yang tertindas tersebut,” pungkasnya.

Acara hari ini masih akan dilanjutkan pada hari Sabtu (16/10) dengan agenda pendalaman materi, sekaligus pendampingan dari para narasumber kepada mahasiswa agar mampu mengaplikasikan teori-teori feminisme ke dalam kegiatan penelitian.[]

Reporter: Khaidar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *