ICON UCE 2022 Baru Saja Digelar Secara Nasional di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, IAIN Ponorogo Mengirim 14 Peserta Delegasi

Perhelatan akbar bertajuk The 4th International Conference on University-Community Engagement (ICON UCE) kembali dilaksanakan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada 24-29 Oktober 2022. Konferensi ini sebelumnya digelar pertama kali di UIN Alauddin Makassar (2014), UIN Malik Ibrahim Malang (2016), dan UIN Sunan Ampel (2018). Acara yang dilangsungkan selama tiga hari ini melibatkan seluruh unsur stakeholder PTKIN/S yang diinisiasi Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya yang membidangi pendidikan tinggi Islam.

 

Seiring dengan menurunnya tingkat Pandemi Covid-19, dan kelonggaran yang diberikan Pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan, LPPM di PTKIN/S se-Indonesia kembali bersama-sama dipertautkan dalam kegiatan yang bernuansa transformatif tersebut yaitu membumikan hasil Pengabdian agar tepat guna dan langsung bisa dirasakan masyarakat, “agenda ini cukup penting demi membumikan dharma PT, khususnya dalam bidang pengabdian masyarakat,” sambut Prof. Ali Ramdhani, Kepala Diktis Kementerian Agama.

 

Agenda ICON UCE tahun ini terbagi menjadi beberapa agenda besar yaitu (1) launching buku panduan Pengabdian Masyarakat, (2) konferensi paper pengabdian terpilih, (3) training metodologi Pengabdian berbasis ABCD dan PAR, (4) nominasi tokoh pengabdi terbaik, dan (5) Expo hasil pengabdian masyarakat dari seluruh peserta LPPM di Indonesia. IAIN Ponorogo sendiri  mendelegasikan beberapa dosen dan mahasiswa menjadi; panel discussion, reviewer, peserta training dan penyelenggara Expo–jumlah delegasi IAIN Ponorogo sekitar 14 peserta, juga dihadiri oleh Rektor: Dr. Evi Muafiah, M.Ag., dan Warek 1: Dr. Mukhibat, M.Ag.

 

Tidak hanya dari kementerian agama, stakeholder pemerintahan Kabupaten Cirebon juga terlibat dalam acara ini, dari lembaga negara hingga unsur keamanan seperti kepolisian dan TNI. Hal inilah yang menjadikan kesan tersendiri untuk Bupati Cirebon, Imron, M.Ag., yang kemudian menfasilitasi kegiatan khusus bertajuk ramah tamah dan gala-diner di pendopo kabupaten Cirebon, “di era keterbukaan informasi seperti ini, SDM dari kementerian agama juga berpeluang untuk memberi peran dalam level apapun, termasuk politik, seperti saya yang alumni PTKIN atau bagian dari Kemenag,” paparnya disela-sela ramah tamah berlangsung.

 

Selanjutnya, training Metodologi Pengabdian memberikan spirit bahwa kesadaran intelektual untuk memuliakan lingkungan masyarakat merupakan hal yang harus konsisten diwujudkan oleh akademisi. Kedua pendekatan berbasis ABCD dan PAR dapat menjadi pilihan praktis akademisi untuk melaksanakan tri Dharma PT, namun perlu didukung oleh sistem nilai yang mendasar lainnya, bukan hanya sekedar formalitas saja, “pemihakan teologis, epistemologis, metodologis dan pilihan praktis/teknis menjadi serangkaian yang penting dalam pelaksanaan pengabdian yang kita maksud. Mohon maaf, karena penelitian-penelitian kita masih berputar pada kepentingan sendiri, belum memihak sama sekali terhadap masyarakat,” tandas Dr, Agus Afandi, M.Ag., narasumber PAR. Ia menambahkan, jika ABCD adalah pengembangan Aset, sedangkan PAR fokus penyelesaian masalah. Tentu, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya, tapi spirit awalnya adalah pemihakan terhadap kebutuhan masyarakat secara nyata.

 

Meeting of Mind melalui ICON UCE 2022, sebagaimana istilah yang dipakai dalam PAR, menjadi titik temu diantara para ketua LPPM di seluruh Indonesia. Tentu, dengan ajang ini tidak hanya silaturahmi, namun juga menjadi sarana transformasi ilmu yang bermanfaat untuk memajukan program pengabdian masyarakat di LPPM masyarakat masing-masing; pengabdian yang tidak hanya berhenti di dalam laporan penelitian, prosiding atau jurnal, tetapi pengabdian yang mampu berciri substainable seperti menciptakan desa-desa binaan yang sukses dan lainnya.

 

Tak kalah menarik, pagelaran Expo juga berjalan dengan semarak. LPPM membawa nuansa yang berbeda sebagai penjelas indentitas lokal yang dimiliki IAIN Ponorogo, atau hasil pengabdian masyarakat itu sendiri. Produk-produk lokal Ponorogo seperti kerajinan tangan sampai atribut reyog, menjadi ikon yang ternyata menarik pengunjung Expo pada even kali ini, “yang keren belum tentu ramai, ternyata yang unik-unik jadi sasaran pengunjung Expo,” tulis Irma dan Weni, koordinator Expo.

Perhelatan akbar tersebut diakhiri dengan beberapa agenda: City Tour, Wisata kuliner ala Cirebon (Nasi Jamblang, Balakuthak, Empal Gentong), yang difasilitasi langsung oleh panitia penyelenggara. Meskipun cuaca hujan yang selalu mengguyur tiap sorenya, tidak meyurutkan semangat seluruh delegasi yang berasal dari penjuru Indonesia.

Akhirnya, terimakasih kepada panitia penyelenggara. Semoga keseluruhan rangkaian ICON UCE 2022 ini mampu meningkatkan kesadaran transformatif, khususnya LPPM Ponorogo, untuk menciptakan etos dan mentalitas yang benar-benar mampu memberikan layanan dan manfaat Pengabdian kepada masyarakat secara nyata. Amin!

 

Tim Redaksi LPPM.

Leave a Reply

Your email address will not be published.