PSGA LPPM IAIN Ponorogo Mengadakan Bedah Buku online Zakat untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, Rabu (06/10/2021). Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan ketua LPPM IAIN Ponorogo, Dr. Ahmadi, M.Ag., yang menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting karena susuai dengan misi LPPM yaitu terwujudnya LPPM Literasi Moderasi Internasional Tahun 2025. Kemudian bedah buku online secara resmi dibuka oleh Rektor IAIN Ponorogo, Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag. dengan harapan Buku ini menjadi inspirasi dan menambah literasi dalam upaya memaksimalkan peran zakat sebagai solusi untuk korban kekerasan khususnya untuk perempuan dan anak.

Isnatin Ulfah, M.H.I., selaku Keuta PSGA IAIN Ponorogo menjelaskan bahwa dalam pemilihan Narasumber pembanding dalam bedah buku zakat untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak didasarkan pada keahliannya dalam bidang kajian Hukum Islam sehingga diharapkan mampu memberikan tambahan literasi yang baik terkait pemanfaatan zakat untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Pemilihan Narasumber pembanding didasarkan pada keahliannya dalam bidang hukum Islam.” Tegas Isnatin.

Bedah buku dengan Judul Zakat untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak karya Yulianti Muthmainnah, S.H.I., M.Sos. dipandu oleh Moderator Anjar Kususiyanah, M.Hum. dan sebagai pembanding dalam acara tersebut adalah Dr. Nahe’i, M.H.I. dan Dr. H. Luthfi Hadi Aminuddin, M.Ag.

Dalam acara tersebut, Yulianti Muthmainnah, S.H.I., M.Sos. sebagai penulis buku menjelaskan bahwa alasan penulisan buku ini diawali dari kenyataan bahwa banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terutama pada masa pandemi Covid-19 saat ini dan belum adanya solusi atas masalah tersebut. “Pada masa pandemi covid-19 semakin meningkat sementara dukungan aparat dan agamawan masih minim ” ujar Yulianti.

Berdasarkan hal tesebut, menunjukkkan bahwa wanita dalam situasi yang terpuruk dan hampir tidak pernah dilirik oleh Lembaga filantropi islam. Buku ini mencoba untuk mendorong Lembaga filantropi Islam untuk mengalokasikan dana zakat sebagai solusi atas masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Islam harus menjadi solusi, memberikan kemaslahatan pada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak,” Tegas Yulinati.

Sebagi pembanding pertama Dr. Nahe’i, M.H.I menjelaskan bagaimana zakat diberikan kepada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat diberikan kerena ada kesamaan terhadap pemaknaan Riqab dan Sabililah, termasuk dalam golongan yang sangat rentan. Akan tetapi Pemaknaan sabililah bukan pada orangnya tatapi lebih kepada Lembaga yang berkerja untuk memulihkan dan mengobati masalah kemanusiaan termasuk KDRT, pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak.  “Sabilillah dapat dimaknai sebagai sabilul khoir, bukan pada orangnya tetapi pada Lembaga yang memberikan pelayanan terhadap pemulihan korban kekerasan.” Tegas Nahe’i.

Sebagai pembanding kedua Dr. H. Luthfi Hadi A., M.Ag.  sepakat dan mendukung Zakat untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Zakat untuk kobarnan kekeran terhadap perempuan dan anak, why not ?”, tegas Luthfi.

Riqab bukan hanya dipahami sebagai budak secara umum, tetapi lebih kepada korban kekerasan yang lemah sehingga berhak memperoleh zakat. “Untuk memahami hal tersebut maka perlu dilakukan kontektualisasi makna Riqab sebagai mustahiq zakat, “tegas Luthfi.

Lebih lanjut Luthfi menjelaskan bahwa di Indonesia masih terjadi distorsi pemahaman zakat, hal ini disebabkan oleh minimnya literasi terhadap pengelolaan zakat, pendistribusian masih bersifat konsumtif, pemaknaan mustahiq yang “tekstual” , dan maping distribusi zakat yang kurang maksimal.

Pada kesempatan ini PSGA LPPM IAIN Ponorogo dan seluruh perserta Bedah Buku Online sepakat dan mendukung terhadap upaya optimalisasi Zakat untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

 

By Admin LPPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *