Mengawali Program Kerja 2022, LPPM Sukses Melakukan Penjajakan Kerjasama Inovasi KKN Moderasi Beragama dengan UP2M Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri

 


Isu moderasi beragama selalu aktual baik dalam sisi diskusi maupun aksi. Kita melihat betapa banyak minat akademisi mengulasnya dari berbagai macam perspektif, bahkan Kemenag RI sendiri mempunyai pakem dalam memaknai isu ini, hingga mengahadirkan buku saku moderasi beragama yang diharapkan mampu membantu menciptakan iklim inklusif-toleran antar-intra pemeluk agama. Dalam aksi, nampak masih perlu perhatian khusus, apalagi dalam hal memasukkan isu ini ke dalam sistem nilai yang hidup di dalam masyarakat, maupun ke dalam sistem kurikulum untuk membentuk SDM yang bermindset moderat. Merespons hal yang terakhir tersebut, Selasa (18/01/22), Tim LPPM IAIN Ponorogo sukses mengadakan kerjasama tahap awal dengan Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UP2M) Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri (SATBN) Wonogiri untuk melakukan aksi bersama atau inovasi berkaitan dengan kegiatan KKN berbasis Moderasi Beragama.

Acara ini awalnya adalah gagasan Ketua Pusat Pengabdian LPPM IAIN Ponorogo, Arif Rahman Hakim, yang akhirnya sukses setelah mendapatkan persetujuan oleh Ketua LPPM IAIN Ponorogo, Ahmadi. “Saya sangat apresiasi kegiatan ini. Dengan mengangkat tema moderasi-beragama, khususnya untuk melakukan inovasi dalam hal kegiatan KKN/KPM mahasiswa, tentu kedua lembaga ini akan mendapatkan berkah yang luar biasa ke depannya; karena kita tahu bahwa isu ini merupakan tugas dari kita bersama untuk mensukseskannya; sesuai amanat UU dan Kemenag,” tandasnya saat sambutan pembukaan kunjungan hari ini.

Acara ramah tamah yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini, melahirkan diskusi-diskusi yang mendalam, khususnya berkaitan dengan bagaimana road-map kerjasama antara IAIN Ponorogo dan STABN dalam kerjasama kolaboratif KKN/KPM bertemakan moderasi beragama. Namun demikian, karena STABN pada 2022 ini sudah mempunyai MoU dengan Banyuwangi, akhirnya kerjasama akan dilakukan pada 2023 secara serius. “Saya menilai kunjungan ini adalah awal yang akan menentukan kita dalam hal bagaimana pernyamaan parsepsi, baik teknis hingga substansi. Meskipun 2021 ini kita sudah ada deal dengan Banyuwangi, untuk IAIN Ponorogo, kita pastikan di 2023 bisa berjalan sesuai rencana. Untuk sementara, kita teruskan koordinasi ini, dan tak terbatas pada isu KKN saja; mungkin pengembangan jurnal atau lainnya,” tandas Prof. Hesti, selaku ketua STABN Wonogiri.

Ramah tamah dilanjutkan dengan sharing informasi terkait dengan bagaimana teknis pelaksanaan KKN yang sudah ada, hingga pengelolaan jurnal masing-masing lembaga. Arif Rahman Hakim, sebagai panel diskusi pertama, menceritakan terdapat teknis-teknis KKN yang selama ini kepada Ketua UP2M STABN, “saya menangkap spiritualitas yang perlu dikembangkan dalam kegiatan KKN ini. Pengalaman mahasiswa kami menjadi peserta KKN moderasi beragama pada 2021 kemarin, membuat saya ingin mengembangkan pada sisi regional, sehingga secara perlahan apa yang dihasilkan nanti tidak kalah dengan program nasional. Teknisnya, kita bisa kolaborasikan peserta KKN nnti untuk ditempatkan di wilayah-wilayah strategis yang cocok dengan penanaman nilai-nilai moderasi,” tutup Arif.

Panel kedua disampaikan Metta, Ketua UP2M STABN, berkaitan pengalamannya mengawal program KKN. Ia mengungkapkan bahwa terdapat kesamaan antara IAIN dan STABN, yaitu dalam hal waktu pelaksanaan KKN: Juli dan Agustus. “Kami sangat senang dengan kunjungan tim LPPM hari ini. Meskipun program ini termasuk jangka panjang, sembari kita menunggu adanya hasil penyamaan persepsi, mungkin kita bisa adakan kerjasama-kerjasama lain sebagai penguat seperti diskusi tata kelola Jurnal ataupun lainnya; mengingat kita baru ada enam Jurnal, dan itupun belum akreditasi Sinta. Jadi, kita memang butuh sharing dengan IAIN, apalagi ketua Rumah Jurnal disana adalah salah satu anggota assesor Sinta,” tuturnya.

Hal yang senada, menjelang acara ditutup, ketua STABN juga terus mengingatkan bahwa perlunya inovasi, terlebih antar lembaga yang beda genre seperti ini, untuk melahirkan gagasan atau terobosan yang mampu memberi wacana baru secara nasional. Oleh sebab itu, “mari kita susun dengan sedemikian rupa untuk RTL pertemuan ini; tunggu hitam di atas putih turun, dan jika perlu kami akan gantian berkunjung ke IAIN untuk melakukan konsolidasi dan diskusi lebih dalam,” tegas Hesti, di tengah keramahannya menyambut tim LPPM.

Alhasil, merawat moderasi beragama, selain dipahami secara akademis sebagai respons atas majemuknya keberagamaan di Indonesia, juga menjadi tugas kita semua untuk menjaganya dalam sebuah aksi nyata seperti kegiatan KKN/KPM. So, to be continued. Stay Tune.

___________________________
Visit and Follow Us at:

•Website: www.lppmiainponorogo.ac.id•IG: lppmiainpo
•FB: lppmiainpo

•Jurnal Pengabdian: https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/inej
•Official YouTube Channel: https://youtube.com/channel/UCYphkeDBRezyRGVf2jpSO9A

Salam Literasi-Moderasi
Tim Redaksi LPPM Official Media Center

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.