Oleh Jihannita / 211317088

Jurusan Tadris IPA C, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

KKN Nusantara 3T yang diselenggarakan di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 7 Januari – 12 Februari diikuti oleh 62 mahasiswa dari 28 PTKIN yang ada di Indonesia. Pemilihan tempat KKN di NTT bukan semata-mata tanpa pertimbangan. Hal ini dikarenakan kesesuaian tema KKN Nusantara 3T sendiri yang mengangkat tema “Peace Building: Mewujudkan Moderasi Beragama dalam Membangun Indonesia dengan Metode Asset Based Community driven Development (ABCD)”.

Apresiasi kegiatan KKN yang mengangkat tema moderasi ini datang dari berbagai pihak, termasuk Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Prof. Arskal Salim, Ph.D. Menurutnya, RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2024 telah menjadikan moderasi beragama sebagai pilar penting yang sekaligus menjadi modal sosial dalam membangun bangsa ini. Oleh karenanya, keluarga besar PTKI harus mampu memberikan kontribusi konkret dalam membangun dan mendiseminasi moderasi beragama tidak hanya di NTT tetapi juga di masyarakat luas.

NTT disurvey berdasarkan tingkat kerukunan umat beragama menjadi kiblat kedua di Indonesia sebagai provinsi yang memiliki moderasi yang sangat tinggi. Tidak hanya kristen katholik dan islam, kepercayaan animisme bahkan masih bisa ditemukan di wilayah pedalaman NTT. Seluruh umat beragama yang ada hidup berdampingan dengan damai selama puluhan tahun.

Implementasi moderasi beragama di NTT sendiri—seperti disampaikan oleh perwakilan Ka. Kanwil Provinsi NTT, Puo Muntu Umbu Nay pada saat pembukaan KKN 3T Selasa (7/1) di asrama haji Kupang sudah terjalin dengan sangat baik. Beliau bercerita pada perayaan natal tahun 2019 lalu harmonisasi beragama antara umat muslim dan kristen terwujudkan dengan kerja sama yang mereka lakukan untuk menjamu dan memeriahkan hari raya umat kristen itu. Ibu-ibu muslim mendapat bagian untuk mempersiapkan makanan nasional, yang dapat dinikmati oleh seluruh umat beragama di NTT. Sehingga setelah peribadatan selesai semua lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi jamuan yang ada.

Nusa Terindah Toleransi yang Puo Muntu Umbu Nay ungkapkan memang bukan sebatas jargon untuk NTT. Hal itu memang telah mengakar kuat di pulau NTT, di sini orang- orang berbagai agama terbiasa berinteraksi di pasar, di warung-warung makan, duduk berdampingan dengan damai. Ketinggian toleransi yang terbentuk satu sama lain telah mampu melepas segala atribut—pakaian keagamaan yang selama ini banyak dipertentangkan orang.

Isu-isu terkait sara, ekstrimisme beragama seperti tidak sedikitpun dapat mengusik kedamaian yang tercipta antara persaudaraan masyarakat yang beragama di sini. Di saat masyarakat di kota-kota yang lebih besar—maju di luar sana sibuk mempertentangkan hukumnya menjawab salam orang non-muslim, hukumnya mengucapkan selamat kepada hari raya orang non-muslim, masyarakat yang katanya di daerah 3T ( Terluar, Terdepan, Terbelakang) ini jauh lebih mampu untuk memaknai bagaimana moderasi dalam beragama itu harus diwujudkan.

KKN Nusantara 3T yang diselenggarakan kali ini menggunakan pendekatan ABCD (Asset Based Community driven Development). Fokus utama pendekatan ini adalah pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan aset yang mereka miliki dan masyarakat sebagai pelaku utama yang akan mengarahkan kepada perubahan dan penentu keberhasilan dari KKN 3T ini. KKN yang selama ini hanya melihat masyarakat sebagai objek perubahan, dengan pendekatan ini masyarakat diarahkan menjadi learning community karena segala pembangunan dimulai dari dalam diri masyarakat sendiri sebagai partner bersama mahasiswa untuk perubahan lebih baik yang berkelanjutan.

Penyelenggaraan KKN Nusantara 3T ini membagi 62 mahasiswa dari 28 PTKIN yang ada untuk terjun secara langsung ke 6 desa dan 1 di wilayah Kecamatan Sulamu, Kupang, NTT. Wilayah tersebut didominasi masyarakat yang menganut agama kristen katolik dan protestan dengan jumlah muslim yang dapat dihitung jari. Sudah terbayang bagaimana tantangan inkulturasi yang harus dibangun mahasiswa, ketika mereka semua beragama muslim dan diterjunkan di masyarakat yang mayoritas—hampir seluruhnya non-muslim.

Gaung besar kecilnya KKN Nusantara 3T ini bergantung pada bagaimana masing- masing mahasiswa peserta KKN mensyiarkan misi “peace building” dengan mengedepankan semangat islam sebagai rahmatan lil’alamiin tidak hanya selama melaksanakan KKN di NTT, tetapi juga saat telah kembali ke perguruan tinggi masing-masing. Alhasil tidak hanya Nusa Terindah Toleransi tetapi Nusantara Terindah Toleransi juga akan segera terwujud,

melalui alumni KKN Nusantara 3T pertama yang akan menjadi promotor moderasi beragama yang handal di kemudian hari.

Saya sebagai salah satu mahasiswa yang terpilih untuk berkesempatan mengimplementasikan dharma pengabdian perguruan tinggi di awal tahun 2020 ini, merasa memiliki tanggung jawab bukan hanya pada almamater IAIN Ponorogo, tetapi lebih dari itu ada tanggung jawab kemanusiaan dan kebijaksanaan yang harus terlaksana selama saya mengikuti KKN Nusantara di Kupang, NTT ini. Saya percaya tidak ada kesuksesan yang besar di dunia ini, selain bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar kita.

10 Januari 2020 secara resmi kami disambut oleh pemerintah kecamatan Sulamu NTT, di kantor kecamatan Sulamu setelah melalui pembekalan 4 hari di Asrama Haji Kupang. Adapun sesi penyambutan mahasiswa dilakukan oleh Bapak Sekretaris Camat Sulamu, Prof. Dr. Ubaidillah selaku panitia penyelenggara dari UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Pak Muhammad Moa yang menjadi perintis adanya KKN Nusantara di kawasan NTT sekaligus sebagai wakil kepala wilayah Kemenag.

Hal menarik yang disampaikan ketika penyambutan mahasiswa KKN di Kantor Kecamatan Sulamu datang dari Pak Muhammad Moa, perintis KKN Nusantara di NTT. Beliau membuka sambutan dengan mengucapkan 4 salam wajib di NTT “salom, salve, om swasti astu, namubdaya, assalamu’alaikum”. Beliau menyampaiakn bahwa KKN yang diselenggarakan bersama-sama dengan Kemenag ini merupakan kali kedua, setelah KKN sebelumnya yang diikuti oleh seluruh kampus yang berasal dari berbagai agama. Perbedaannya adalah ini merupakan KKN pertama di NTT yang diikuti oleh mahasiswa yang kesemuanya beragama islam, dan untuk penempatannya sendiri sengaja ditempatkan di Kecamatan Sulamu dengan 7 titik (Kecamatan Sulamu, Desa Pantulan, Desa Pitay, Desa Pantai Beringin, Desa Pariti, Desa Oeteta, dan Desa Bipolo).

Berdasarkan pembagian kelompok yang ada, saya berada di kelompok 3 dengan penempatan KKN di desa Pitay, Kecamatan Sulamu. Satu kelompok terdiri atas 9 mahasiswa. Kebetulan di kelompok saya hanya ada 3 orang perempuan sedangkan 6 angota yang lain semuanya laki-laki. Kelompok saya juga menjadi kelompok dengan jumlah anggota perempuan paling sedikit dibandingkan kelompok yang lainnya. Setelah sesi penyambutan di Kantor Kecamatan selesai, masing-masing kelompok KKN yang ada dijemput oleh kepala desa untuk diantarkan menuju tempat KKN yang telah dibagi.

Di Desa Pitay inilah nantinya waktu selama kurang lebih satu bulan yang ada, harus kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mewujudkan moderasi beragama. Pitay dalah desa dengan seluruh warga masyarakatnya beragama Protestan. Hal ini otomatis hanya ada 9  orang muslim saja yaitu dari kami sendiri mahasiswa kelompok 3 KKN Nusantara 3T. Masyarakat Pitay berasal dari suku Sabu, Rote, dan Sumba. Sumber daya alam yang paling melimpah di Pitay adalah hasil pertanian, peternakan, hasil hutan, dan perkebunan.  Tantangan yang harus saya hadapi bukan hanya bagaimana menyikapi perbedaan agama yang ada, tetapi bagaimana yang terpenting membangun trust building dari masyarakat, sebagai subjek perubahan yang menentukan kesuksesan kami nantinya selama menjalankan KKN di desa Pitay ini.

Di depan sudah disinggung bahwasanya pendekatan yang digunakan dalam KKN Nusantara 3T ini adalah pendekatan ABCD (Asset Based Community driven Development), pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat difokuskan pada pengembangan aset yang dimiliki masyarakat sebagai basis utama pengembangan masyarakat. Tahapan ABCD sendiri dilaksanakan melalui 4 tahap, yaitu tahap inkulturasi (tahap membangun kepercayaan komunitas mitra), dan tahap descovery (tahap pemetaan aset melalui FGD dan interview denga komunitas mitra) yang diselenggarakan pada minggu pertama, tahap design (mensosialisasikan hasil pemetaan aset kepada masyarakat) pada minggu kedua, tahap define (memfasilitasi pelaksanaan program pilihan masyarakat) pada minggu ketiga, dan terakhir tahap refleksi (mengetahui sejauh mana ABCD membawa dampak perubahan) pada minggu terakhir yakni minggu keempat.

Pada tahap inkulturasi yang saya lakukan bersama kelompok pada Minggu I tanggal 10-19 Januari setibanya di Desa Pitay, adalah memberikan pemahaman kepada komunitas (masyarakat) maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilakukan mahasiswa KKN di desa mereka. Adapun bentuk kegiatannya adalah dengan silaturahmi ke tokoh masyarakat dan masyarakat umum serta mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan yang sudah ada di desa.

Bertepatan ketika kami sampai di Desa Pitay, pada Minggu pertama tanggal 13 Januari terdapat event besar terkait pembangunan Galangan Kapal perusahan PT Industri Kapal Nusantara. Tujuan pembangunan sektor maritim tersebut adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja. Lokasi pembangunan industri yang dipilih berada di Desa Pitay, dan diresmikan secara langsung oleh gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat. Momen yang sangat tepat sekali karena dalam prosesi peletakan batu pertama (Ground Breaking) pembangunan galangan kapal tersebut turut serta mengundang seluruh mahasiswa KKN yang ada di kecamatan Sulamu untuk bisa hadir di Desa Pitay.

Rangkaian acara peletakan batu pertama tersebut dimeriahkan dengan tarian-tarian adat NTT, seperti tari fotti yang dibawakan oleh laki-laki secara berpasangan. Tarian tersebut mengutamakan kelincahan dan gerakan kaki para penarinya. Selain itu ada pula tari te orenda, tai benu, dan tari lalongge yang dibawakan nona-nona (sebutan untuk perempuan NTT). Kesemua tarian itu dipakai untuk iring-iringan penyambutan kedatangan Gubernur NTT menuju tempat acara. Hal unik yang  baru pertama kali saya lihat adalah tentunya pakaian dari para penari yang dilengkapi dengan sarung untuk setelan bawah para penari dan selendang, yang semuanya menggunakan kain adat khas NTT— yang sengaja dipakai untuk acara-acara besar dan acara adat di sini. Selain itu tidak ketinggalan ada pula topi khas NTT yang terbuat dari anyaman daun lontar bernama tilangga yang hanya dikenakan oleh laki-laki.

Untuk kegiatan sosial sendiri dalam rangka melakukan tahap inkulturasi dengan masyarakat dilakukan dengan mengikut kerja bakti persiapan acara galangan kapal, membersihkan gereja bersama jemaat gereja, mengajar ke SD Impres—SMPN 3 Sulamu satu atap yang ada di Desa Pitay, menghadiri pemakaman jenazah, dan undangan dari beberapa warga yang sengaja mengundang kami mahasiswa KKN untuk datang ke acara mereka, serta mengajar di kelas minggu (kelas belajar anak-anak gereja) di posko KKN kami yang bertempat di Aula Desa Pitay, tepat di belakang kantor desa. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang saya lakukan bersama teman-teman KKN di sini.

Segala pusat kegiatan agama di sini berada di gereja, karena seluruh masyarakat desa yang ada beragama Protestan. Ini merupakan kali pertama seumur hidup saya untuk melangkahkan kaki di tempat peribadatan jemaat protestan. Di desa Pitay ini ada dua gereja besar yang menjadi pusat kegiatan kegamaan yaitu Gereja Zaitun di Dusun 3 dan Gereja Sion di Dusun 1. Gereja Zaitun dipimpin oleh Mama Endah sebagai ibu pendeta, sedangkan  Gereja Sion dipimpin oleh Pak Nara sebagai pendeta.

Sama halnya dengan masjid, yang selain sebagai tempat ibadah juga digunakan untuk pusat pembelajaran. Gereja di Pitay juga sama, setiap Minggu setelah peribadatan gereja selesai jemaat gereja yang terdiri atas par (sebutan untuk jemaat anak-anak gereja) memiliki kelas mingguan untuk belajar peribadatan dan kidung-kidung jemaat. Adapun yang mengisi bisa dari guru mereka yang juga sebagai jemaat gereja tersebut, ataupun dari para pemuda- pemudi gereja. Di Gereja Zaitun, pemuda-pemudinya hanya sedikit karena banyak dari mereka pergi merantau, sedangkan di Gereja Sion banyak pemuda-pemudinya yang hadir untuk beribadah dan membantu pelaksanaan sekolah minggu untuk par.

Saya sebagai satu-satunya mahasiswa dari fakultas tarbiyyah dianggap paling memiliki tupoksi untuk mengajar oleh teman-teman sekelompok. Sehingga hampir setiap hari jika ada par yang sengaja main ke posko, saya seperti diharuskan untuk berbagi sedikit ilmu kepada mereka. Dan tidak hanya di gereja, tetapi di sekolah, maupun di sekolah minggu saya pun terpaksa harus menerima sebutan “Bu Guru” dari sapaan teman-teman sekelompok, yang

berniat baik untuk menyemangati saya menyandang sapaan pahlawan tanpa tanda jasa itu. Akhirnya dengan sedikit berat hati karena ketidakmampuan yang cukup dari diri saya, sudah beberapa kali pembelajaran alakadarnya berlangsung bersama par, yang saya niatkan untuk saling berbagi kebaikan bersama mereka agar kelak ada manfaat yang dapat diambil dari kehadiran saya di KKN Nusantara 3T ini. Entah itu par yang ada di Gereja Zaitun maupun Gereja Sion, mereka adalah salah satu penyemangat saya menjalankan KKN Nusantara 3T ini, di saat kejenuhan dan niat seringkali tergoyahkan.

 Mereka anak-anak adalah kuncup-kuncup kehidupan yang akan meneruskan peradaban, dari mata-mata mereka saya menyelipkan doa dan keyakinan agar kelak mereka tidak berhenti bertumbuh untuk menjadi peneduh di manapun mereka berada minimal bagi keluarga, bagi masyarakat, dan bahkan untuk negara Indonesia tercinta. Pusat pembelajaran memang diadakan di gereja setiap minggunya, akan tetapi adanya sekolah juga menjadi

penunjang utama kualitas pendidikan anak-anak desa Pitay. Di sini terdapat sekolah satu atap SD Impres Pitay dan SMPN 3 Sulamu. Menurut masyarakat sekitar desa Pitay inilah yang paling dikatakan maju pendidikannya, meskipun memang masih terbilang tertinggal jika dibandingkan dengan sekolah yang ada di Jawa pada umumnya. Berkesempatan belajar bersama mereka di sekolah satu atap ini, juga mengajarkan saya bagaimana pendidikan memegang peranan terdepan untuk menyiapkan generasi mendatang.

Selain pengalaman pertama kalinya memasuki gereja, dan mengajar anak gereja di sini juga untuk pertama kalinya saya menghadiri prosesi pemakaman jenazah agama protestan. Ketika lonceng dipukul sebanyak 7 kali di gereja maka itu menandakan ada anak-anak yang meninggal, sedangkan untuk orang dewasa yang meninggal lonceng dipukul sebanyak 12 kali. Sudah dua kali saya mengahadiri prosesi pemakaman selama melaksanakan KKN di Desa Pitay ini. Sama halnya dengan prosesi pemakaman pada umumnya, di sini seluruh warga desa akan datang bergorong royong untuk mempersiapkan segala sesuatunya jika ada orang yang meningal. Tenda-tenda duka dipasang di depan rumah orang yang berduka, orang-orang pun berdatangan untuk menunjukkan bela sungkawa sedalam-dalmnya. Perbedaannya adalah ketika ada orang yang meninggal, bisa membutuhkan 2 atau 3 hari prosesi untuk mempersiapkan jenazah sebelum dikebumikan. Hal ini bisa disebabkan oleh kondisi cuaca yang kurang mendukung, dan perawatan jenazah yang harus dikremasi terlebih dahulu juga membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, bagian dalam rumah duka juga dihiasi dengan dekorasi serba putih.

Prosesi pemakaman di antaranya dilakukan dalam sebuah rangkaian acara mulai dari pembukaan acara penguburan jenazah oleh MC, pembacaan riwayat hidup almarhum oleh cucu yang dipilih untuk mewakili, sambutan dari kepala desa, kemudian sesi kata hati keluarga dari perwakilan keluarga almarhum, kemudian masuk kepada acara inti yang langsung dipimpin oleh kepala pendeta degan melaksanakan ibadah penguburan—puja-puji dipanjatkan. Setelah jenazah ditutup dalam peti untuk dikebumikan, ada tanggul persembahan yang diedarkan kepada seluruh warga yang hadir di pemakaman mirip seperti kotak amal dalam Islam. Setelah semua prosesi selesai selalu ada acara lelang dari tuan rumah adapun hasil lelang diserahkan kepada gereja. Ketika saya menghadri pemakaman jenazah Mama Bendalina Penu-Huan, pihak keluarga melelang kaki babi dan terjual seharga Rp. 125.000,-. Uang hasil lelang itu nantinya akan disumbangkan ke gereja.

Proses pemakaman ditutup dengan acara makan bersama yang telah disediakan tuan rumah, tentunya saya dan teman seklompok tidak bisa ikut makan, karena makanan yang dihidangkan berupa olehan daging babi. Karena ada pihak keluarga yang cukup kami kenal baik, sepulang dari pemakaman kami diberi dua ekor ayam untuk kami sembelih dan masak sendiri di posko.

Berada di sini mengajarkan saya tentang makna toleransi beragama yang sesungguhnya. Di mana orang sudah tidak lagi mempertentangkan identitas, perbedaan agama dan yang lainnya. Mereka semua warga masyarakat Desa Pitay telah mengajarkan saya bagaimana kebaikan jauh lebih efektif untuk bisa menyatukan perbedaan yang ada, dibandingkan upaya diplomasi, apalagi segala bentuk kekerasan dalam menyikapi perbedaan beragama ini. 9 muslim di wilayah yang seluruhnya protestan, bisa menetap dengan aman dan nyaman dengan kebaikan para penduduk di sini, dengan keramahan penduduk asli, sampai-sampai kata toleransi di sini bukan hanya sekedar kata yang dijunjung tapi sudah melebur dan mendarah daging di semua jiwa papa—mama, adik, kakak—nona di sini.

“Nobody has nothing” adalah salah satu prinsip yang dipakai dalam pendekatan ABCD (Asset Based Community driven Development) tidak ada seorang pun yang tidak memiliki potensi apa-apa untuk bisa dikembangkan. Tinggal di wilayah yang katanya 3T (Terluar, Terdepan, dan Terbelakang) nyatanya tidak seburuk label yang selama ini disematkan untuk wilayah-wilayah yang katanya masih jauh dari segala kemajuan peradaban. Di sini kedamaian mudah ditemukan tidak seperti di daerah dengan tingkat kemajuan perekonomian yang pesat namun berbanding terbalik dengan tingkat kerukunannya. Kerukunan adalah aset paling besar yang ada di Pitay ini, di samping ada juga aset yang berbentuk  sumber daya alam dan hasil bumi desa ini.

Memasuki tahap kedua dalam pendekatan ABCD yang juga dilakukan pada minggu I, adalah descovery (pemetaan aset) yang ada di Desa Pitay dar hasil pengamatan dan interview dengan masyarakat desa untuk menyusun progrma KKN 3 minggu ke depan. Aset yang kami fokuskan tentunya langsung berhubungan dengan tahapan ketiga, design dengan mengidentifikasi peluang kemitraan dan penyusunan program kerja yang berkelanjutan sampai setelah kami selesai melaksanakan KKN. Dengan pertimbangan kelompok yang matang, dan mungkin tidak akan habis jika dituliskan detail kegiatan apa saja yang kami tempuh untuk menemu kenali aset ini, singkatnya ada 3 program utama yang menjadi fokus program kerja kelompok untuk kedepannya, yaitu program budi daya tanaman kelor, program budi daya serai, dan program rumah baca.

Program KKN Nusantara 3T sendiri dibagi menjadi dua, ada program yang sifatnya pendukung, seperti kegiatan-kegiatan sosial masyarakat pada umumnya sebagai mahasiswa KKN, dan ada juga program unggulan yang menjadi target dan fokus pencapaian terbesar yang tidak hanya dipertanggung jawabkan kepada panitia penyelenggara, dan kampus masing-masing akan tetapi lebih dari itu. Program inti ini sudah menjangkau ranah tanggung jawab kemanusiaan yan sebisa mungkin sangat urgent untuk diwujudkan keberhasilannya. Inilah nantinya yang menjadi gaung besar—kecilnya para mahasiswa KKN Nusantara 3T untuk mampu berdampak, sanggup bertindak, dan memutuskan kehendak atas nama pengabdian untuk kebaikan masyarakat banyak.

Ada dua progam unggulan yang saya dan kelompok pilih untuk direalisasikan di Desa Pitay ini. Pertama adalah program pemberdayaan wanita (mama-mama yang ada di Pitay) untuk membetnuk kelompok usaha serai. Program ini dipilih karena melimpahnya sumber daya alam berupa tanaman serai di Pitay, sedangkan pemanfaatannya hanya sebatas untuk bumbu dapur bahkan juga seringkali habis dimakan ternak masyarakat sendiri.

Penentuan program ini merupakan tahapan define dalam pendekatan ABCD. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi pelaksanakan program kerja pilihan masyarakat. Jus Serai Pitay menjadi pilihan produk dari program pertama yang dibuat untuk memberdayakan perempuan di desa ini, karena olahan serai yang saya tawarkan bersama kelompok memang disambut baik sejak awal oleh masyarakat. Adapun proses pembentukan jus serai ini tidak sebentar, kurang lebih memakan waktu dua minggu untuk bisa membentuk kelompok usaha serai yang menghasilkan produk olahan yang kami beri nama JSP (Jus Serai Pitay).

Pelaksanaan program ini diawali dengan mengadakan sosialisasi pembuatan jus serai Pitay dari mulai alat dan bahan, cara pembuatan, serta khasiat dari jus serai. Ada 3 kali sesi sosialisasi yang kami bagi di dua tempat, yaitu di dusun 4 dan dusun 1 ,2 yang memiliki sumber daya serai melimpah. Antusias mama-mama yang hadir begitu besar ketika kami menjelaskan demo pembuatan dan penjelasan khasiat jus serai ini.

Sosialisasi ini merupakan tahap pengenalan kepada masaysarakat bahwasannya tanaman serai bisa lebih diinovasikan untuk menjadi sebuah produk yang dapat memberikan keuntungan kepada kelompok mama-mama Desa Pitay ini jika dikelola dengan baik.

Setelah tahapan sosialisasi dinilai cukup, selanjutnya langkah yang ditempuh adalah melakukan FGD (Forum Group Discussion) bersama pemerintahan desa dan kelompok usaha serai yang akan dibentuk untuk membahas SK kelompok usaha, Rencana Anggaran Belanja (RAB) kelompok, logo usaha, dan SOP kelompok jus serai ini. Sehingga kedepannya setelah mahasiswa KKN selesai melakasnakan pengabdian di desa ini, program ini masih akan terus

dijalankan dan dikembangkan oleh masyarakat. Sehingga menjadi program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Pada 1 Februari 2020 kemarin kelompok KKN Desa kami bahkan berhasil menyelenggarakan bazar produk JSP (Jus Serai Pitay) di acara Bazar Budaya desa tetangga, di Bipolo dan menghasilkan keuntungan yang lumayan besar untuk penyemangat kelompok jus serai ini. Lebih dari 30 cup minuman terjual habis dan 2 botol sampel jus serai juga terjual dalam waktu hanya dua jam.

Program kedua yang menjadi prioritas saya dan kelompok adalah pembentukan taman cerdas yang dipusatkan di dekat gereja. Program ini bertujuan untuk mewadahi kreatifitas dan meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di Desa Pitay, dengan anak-anak gereja yang menjadi fokus utama perbaikan pendidikan yang ada di desa. Saya memiliki keyakinan penuh bahwa mereka anak-anak desa inilah, yang akan membawa dan sanggup membawa dan memajukan desa mereka sendiri. Sehingga program ini dipilih untuk bisa setidaknya memberikan semangat kepada mereka untuk mampu belajar lebih giat lagi untuk kebaikan mereka sendiri, keluarga, dan desa.

Selain dua program unggulan di atas yang menjadi prioritas kelompok, ada juga kegiatan bersama para pemuda-pemudi gereja yang berhasil saya dan kelompok laksanakan terkait gerakan penanaman 100 bibit kelor di Pulau Burung. Kelor menjadi salah satu tanaman yang melimpah di Desa Pitay akan tetapi masyarakat belum memiliki kesadaran sepenuhnya untuk dapat membudidayakan tanaman yang memiliki banyak manfaat ini. Melalui para pemuda dan pemudi gereja kami mencoba memfasilitasi permasalahan yang dikeluhkan seorang petani kelor yang mengaku mendapat banyak batuan bibit kelor dari pemerintah pertanian, akan tetapi masih terbengkalai di kebun karena kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk bisa melakukan penanaman sendiri.

Kegiatan ini kami awali dengan melakukan pengecekan di kebun kelor Pak Yopi terkait bibit kelor yang banyak terbengkalai karena belum sempat dilakukan penanaman bersama masyaraat desa. Kemudian melakukan koordinasi bersama pemuda-pemudi gereja yang ada untuk melakukan gerakan penanaman100 bibit kelor di Pulau Burung. Harapannya setelah kegiatan ini, masyarakat semakin sadar untuk giat membudidayakan tanaman kelor yang menjadi aset dari desa mereka sendiri.

Di 10 hari terkahir ini, harapan saya apa yang telah sebisa mungkin kami bagi di sini meskipun tidak banyak semoga bisa memberikan manfaat bagi warga masyarakat desa Pitay. Terlepas dari moderasi beragama yang sudah bukan menjadi masalah lagi, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada warga Desa Pitay yang telah memberikan ilmu berharga tentang indahnya persaudaraan di antara banyak sisi perbedaan yang dikaruniakan Tuhan. Untuk para pembaca, siapapun anda, khususnya para pemuda—generasi penerus bangsa tetap teguh dan yakinlah bahwa Indonesia bukan hanya sebuah wilayah yang tersusun atas batas peta tetapi gerak dan peran besar kaum mudalah yang menjadi penting untuk terus diupayakan kapanpun di manapun.

Berkesempatan untuk memiliki suadara—belajar dari keluarga baru di NTT ini, menyadarkan akan banyaknya pekerjaan rumah Indonesia hari ini, esok, dan yang akan datang. Maka mari bersama-sama kita bangkit menjadi anak-anak garuda yang  menerbangkan sejarah baik untuk Indonesia tercinta.[JHN]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *