Minggu, 3 Oktober 2021, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Ponorogo, Isnatin Ulfah diundang DEMA FUAD IAIN Ponorogo untuk menjadi narasumber dalam  diskusi virtual RELASI MEMBUMI “DEMA FUAD IAIN Ponorogo X DEMA FUPI UIN SUKA Yogyakarta”,  dengan  temaPeran Organisasi dalam Mewujudkan Kampus Responsif Gender”.  

Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara DEMA  FUAD IAIN Ponorogo dan DEMA FUPI UIN Sunan Kalijaga (SUKA) Yogyakarta dalam mengenalkan isu kampus responsif gender kepada mahasiswa. Karena merupakan kegiatan kerjasama antar dua perguruan tinggi, maka narasumber yang dilibatkan juga dari kedua perguruan tinggi tersebut. Dari IAIN Ponorogo yang dadapuk menjadi narasumber adalah Isnatin Ulfah kepala PSGA IAIN Ponorogo. Sedangkan dari UIN SUKA.yang menjadi narasumber adalah Nur Afni K, Ketua Rumah Gender UIN Suka Yogyakarta.

Pembawa acara pada kegiatan tersebut adalah Hanifa Munandra yang memulai kegiatan pada pukul  14.20 WIB. Acara dibuka dengan pembacaan al-Fatihah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’, kemudian sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua DEMA FUAD IAIN Ponorogo, Fahad Ulin Nuha. Dalam sambutannya, Fahad menyampaikan bahwa poin penting yang hendak dicapai dari kegiatan diskusi virtual RELASI MEMBUM ini adalah, terjalinnya kerjasama atau relasi yang semakin erat antar organisasi kampus di Indonesia, khususnya  dengan DEMA FUPI UIN SUKA Yogyakarta. Ia juga mengharapkan dukungan dari berbagai pihak dalam menjalankan segala acara serupa yang mungkin akan ada lagi di masa mendatang.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua DEMA FUPI UIN SUKA Yogyakarta, Kirwan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa diadakannya acara yang memhabas isu-isu  gender seperti kegiatan ini, merupakan hal yang sangat baik karena isu gender dan kesetaraan gender tidak pernah berhenti dibicarakan.. Mahasiswa harus mengikuti dan memahami isu-isu tersebut. Pandemi yang membatasi hampir semua aktivitas masyarakat, bukan berarti organisasi kemahasiswaan berdiam diri tidak melakukan apa-apa. Dengan memanfaatkan vasilitas yang ada, dan dengan diniati silaturrahmi, maka kegiatan semacam ini sangat penting dilakukan.

Setelah sambutan berakhir, dilanjutkan dengan acara inti diskusi virtual Peran Organisasi dalam Mewujudkan Kampus Responsif Gender”. Wakil Ketua DEMA FUAD IAIN Ponorogo, Ananda Erliyana Putri, ditugaskan untuk memandu jalannya diskusi virtual tersebut. Narasumber pertama adalah, Isnatin Ulfah, Kepala PSGA IAIN Ponorogo.

Dosen Fakultas Syariah IAIN Ponorogo tersebut menyampaikan materi Konsep Dasar Gender, Kesetaraan Gender dan Kampus Responsi Gender. Gender menurutnya bukan membicarakan perempuan saja, tapi laki-laki dan perempuan. Menurutnya mengapa hanya perempuan yang sering menjadi fokus kajian gender? karena dalam realitas perempuan sangat sering mengalami ketidakadilan yang disebabkan oleh konstruksi sosial dan budaya. sehingga membicarakan gender lalu menjadi lebih banyak membicaraka perempuan.  Oleh karena itu dia menekankan bahwa pengertian gender itu bukan tentang jenis kelamin, gender adalah sifat yang dilekatkan ada laki-laki dan perempuan yang itu disebabkan oleh kontruskrsi budaya dan sosial, bukan karena takdir Tuhan. Perempaun disifati lemah sedangkan laki-lai kuat itu bukanlah sifat yang merupakan takdir Tuhan, itu adalah sifat yang diabngun oleh masyarakat.

Sedangkan pembicaraan tentang kesetraan gender dia meng-hilight bahwa kesetaraan gender itu bukan 50 vs 50. Kesetaraan adalah equity atau keadilan yang proposional di antara dua jenis kelamin. Dosen yang biasa dipanggil bu Isna ini memberikan lima indikator kesetraan gender yaitu tidakadanya marginalisasi, tida adanya subordinasi, tidakadanya  sterotype, tidakadanya violance, dan tidakadanya double buden.

Ketika membahas kampus responsif gender, kepala PSGA ini memberikan beberapa indikator bagi terwujudnya kampus responsif gender yaitu dari sisi proses pembelajaran harus ada RPS,materi, bahan ajar, dan metode pembelajaran yang adil gender; dari sisi mahasiswanya harus diperlakukan setara antara mahasiswa dan mahasiswi dalam proses pembelajaran bahkan hingga penilaian; dari sisi dosen harus memberikan hak yang  setara antara dosen perempuan dan laki-laki dalam meraih jenjang karirnya, harus setara dalam mengakses kewajibannnya, dst; sedangkan dari sisi sarana dan prasarana seperti toilet, anak tangga, penataan ruang kerja, ruang kelas, tempat ibadah, taman, ruang kegiatan mahasiswa dst harus responsif gender

Lalu, “apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam mewujudkan kampus yang responsive gender?”. Dia menyebutkan bahwa, pertama adalah dengan memulai dari diri sendiri untuk tidak melakukan gender ien-equality. Kedua, sedapat mungkin untuk terlibat dalam proses pembelajaran dengan dosen secara egaliter. Ketiga, sebisa mungkin juga terlibat dalam penyusunan anggaran melalui ormawa. Keempat, memahami isu gender secara aktif, baik dalam pembelajaran, penelitian, kegiatan kemahasiswaan dan lain sebagainya. Mahasiswa sebagai agen of change, sangat tepat untuk menjadi agen kampus responsif gender, dan itu bisa terwijud jika mahasiswa mau memulai dari darinya sendiri dan menguasai isu-isu gender sebagai salah satu isu pergerakan yang harus diperjuangkan.

Pemateri kedua Nur Afni K,  Ketua Rumah Gender UIN SUKA Yogyakarta menyampaikan Materi kekerasan seksual di perguruan tinggi. Narasumber memaparkan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di beberapa lingkungan kampus di Indonesia. Tidak sedikit kasus kekerasan seksual yang terjadi khususnya di lingkungan kampus. Dan tidak sedikit pula orang yang belum mengetahui dan memahami “apakah kekerasan seksual itu”. Kebanyakan mungkin secara tidak sadar menganggap biasa perilaku kekerasan seksual atau dengan kata lain menormalisasikan hal tersebut. Kasus kekerasan seksual bisa terjadi karena mindset pelaku, bukan karena penampilan atau tubuh korban. Secanggih apapun peraturan perundang-undangan, jika korban tidak berkehendak untuk menuntaskan permasalahan kekerasan seksual yang sedang terjadi kepadanya, maka kasus-kasus kekerasan seksual tidak akan pernah berhenti.

Perjuangan kesetaraan gender akan dapat segera terwujud jika dibarengi dengan ambisi atau tindakan nyata. Maka keterlibatan mahasiswa sendiri mutlak diperlukan, karena mereka memiliki relasi yang setara dengan korban, jadi yang menangani kasus kekerasan seksual tersebut adalah para mahasiswa.

Pada akhir paparannya, dia memberikan closing statement, bahwa “penghapusan kekerasan seksual di ranah kampus adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama.” Sebelum acara ditutup, peserta diarahkan supaya menyalakan kamera untuk sesi foto bersama, setelah itu acara diakhiri sekitar pukul 17.00 WIB.

By Admin LPPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *